Dinkesda Sangihe Terus Seriusi Penanganan Penyakit TBC, Pasandaran : Berobat Gratis

Tahuna, KOMENTAR.ID

Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Kepulauan Sangihe terus menseriusi penanganan penyakit tuberkulosis (TBC) yang jumlah kasus cukup signigikfikan

Sejak bulan Januari hingga Juni 2026, tercatat ada 180 kasus TBC di Sangihe, terdiri dari 105 penderita laki-laki, 71 perempuan, serta 4 kasus Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO).

Penyebarannya juga hampir di seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, mulai dari Kecamatan Tahuna dengan jumlah kasus tertinggi 25 kasus, Kecamatan Manganitu sebanyak 24 kasus, Tahuna Timur 22 kasus, Tamako 19 kasus, Enemawira 14 kasus, Manganitu Selatan 14 kasus, Tahuna Barat 12 kasus, Kalasuge 10 kasus, Kendahe 8 kasus, Kuma 8 kasus, Manalu 6 kasus, Salurang 5 kasus, Dagho dan Nusa Tabukan masing-masing 4 kasus, Pintareng 3 kasus, serta Kahakitang dan Marore 1 kasus.

Jumlah kasus TBC ini cenderung menurun dibandinq tahun lalu sehingga masyarakat diminta tidak panik mengingat TBC dapat disembuhkan secara total apabila pasien menjalani pengobatan secara disiplin hingga tuntas.

“Memang cukup banyak jumlah kasus yang ditemukan, tapi hal ini menunjukkan semakin efektifnya upaya penemuan kasus secara aktif melalui skrining kesehatan di masyarakat,” kata
Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Handry Pasandaran, Jumat (03/07/2026).

Handry mengatakan, warga maupun pasien tidak harus terbeban dengan TBC, karena TBC bukan penyakit menular, termasuk untuk pengobatannya tidak ada biaya atau gratis.

“Dulu kita hanya menunggu pasien datang, tapi sekarang sudah melalui skrining dan program cek kesehatan gratis, hingga semakin banyak kasus yang bisa ditemukan lebih dini dan semua pasien dapat diobati sampai tuntas sehingga mata rantai penularan bisa diputus,”jelas Handry.

Handry mengakui meski penemuan kasus TBC di Kabupaten Kepulauan Sangihe cukup signigikan, namun angka keberhasilan pengobatan mengalami penurunan akibat masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan sebelum selesai sesuai waktu yang ditetapkan.

“Angka kesembuhan pernah mencapai sekitar 95 persen, namun ada penurunan sekitar 87 persen. Ini karena masih ada pasien yang putus berobat maupun meninggal dunia, dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami,”ujarnya.

Meski standar nasional menetapkan angka keberhasilan pengobatan minimal 90 persen. Namun Dinkesda Sangihe justru menargetkan seluruh pasien dapat sembuh.

“Kami tidak terpaku dengan standar nasional, tetapi sebisa mungkin seluruh pasien 100 persen bisa sembuh melalui pengobatan sesuai standar,” tegas Handry.

Dinkesda juga berupaya mempercepat eliminasi TBC, melaluo peluncuran inovasi Santer TB (Sistem Akselerasi Nusantara Tangguh Eliminasi Tuberkulosis). Program ini mengintegrasikan penemuan kasus secara aktif, skrining dini, pengobatan hingga tuntas, serta pemantauan kepatuhan pasien melalui fitur Electronic Directly Observed Treatment (E-DOT).

“Melalui sistem tersebut, pasien akan mengunggah bukti saat mengonsumsi obat sehingga dapat dipantau secara elektronik oleh petugas kesehatan. Cara ini diharapkan mampu menekan angka pasien yang putus berobat sekaligus mempercepat penanganan apabila muncul efek samping selama terapi,”jelasnya lagi.

Handry juga mengatakan Dinkesda memperkuat edukasi kepada masyarakat dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, lembaga pendidikan, serta seluruh pemangku kepentingan. Di setiap desa dan kelurahan juga telah dibentuk dua kader TBC yang bertugas membantu petugas kesehatan melakukan skrining, investigasi kontak, sekaligus mengawasi kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.

“Yang pasti pasien TBC bisa sembuh total jika menjalani pengobatan secara tuntas. Karena itu masyarakat tidak perlu takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala serta patuh menjalani pengobatan, dan bersama-sama mendukung target eliminasi tuberkulosis di Kabupaten Kepulauan Sangihe pada 2030,” pungkas Handry. {PeyKID}

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts