Minahasa, KOMENTAR.ID
Proyek perbaikan jalan yang seharusnya membawa kenyamanan bagi masyarakat kini justru berubah menjadi mesin pembunuh. Sebuah galian jalan yang dibiarkan menganga tanpa pengamanan dan rambu peringatan di Jl. Trans Sulawesi Utara, tepatnya di depan pintu masuk Jl. Langsot, Desa Ranowangko, Kec. Tombariri, nyaris memakan korban jiwa.
Dari pantauan di lokasi, kondisi jalan pada malam hari sangat mengerikan. Aspal yang sudah dipotong dan digali berbentuk persegi di tengah badan jalan dibiarkan begitu saja. Minimnya penerangan membuat lubang maut ini nyaris tak terlihat oleh pengendara motor maupun mobil yang melintas.
Seorang warga yang nyaris menjadi korban akibat galian tersebut melontarkan kritik sangat tajam. Dengan nada gemetar menahan amarah, ia menceritakan kengerian yang baru saja dialaminya.
”Ini kontraktornya punya otak atau tidak?! Bikin galian di tengah jalan lintas lalu ditinggal pulang begitu saja tanpa rambu! Saya bawa motor, tiba-tiba lubang besar sudah di depan mata. Kalau saya tidak refleks banting setir, mungkin saya sudah tinggal nama hari ini. Ini bukan proyek, ini percobaan pembunuhan di jalan raya!” tegas pengendara tersebut.
Sikap apatis dan kelalaian fatal ini memicu amarah warga sekitar. Masyarakat di Desa Langsot sangat menyayangkan ketidakbecusan pihak pelaksana proyek dan tutup matanya dinas terkait.
”Kami warga Desa Langsot sangat kecewa dan marah. Jalan ini akses utama kami. Kenapa jalanan dibiarkan seperti jebakan binatang? Dinas Pekerjaan Umum (PU) atau pengawas proyek ini kerjanya apa? Apakah mereka sedang menunggu ada warga yang mati patah leher masuk lubang baru mau bertindak?” kecam salah seorang warga Langsot.
Merespons keteledoran tingkat dewa ini, Komunitas DR langsung mengeluarkan pernyataan sikap dan teguran keras. Mereka mendesak agar kontraktor pelaksana dan dinas terkait tidak main-main dengan nyawa rakyat.
”Kami dari Komunitas DR mengecam keras kelalaian biadab ini! Kami beri ultimatum kepada pihak Kontraktor dan Dinas terkait: segera perbaiki dan tutup lubang maut itu dalam kurun waktu 1×24 jam! Jika besok masih menganga dan sampai ada tetesan darah masyarakat yang jatuh di lubang tersebut, Komunitas DR akan memimpin masyarakat untuk menyeret kelalaian ini ke ranah pidana! Jangan anggap remeh nyawa manusia!” tegas perwakilan Komunitas DR.
Kejadian ini menjadi bukti nyata buruknya Standar Operasional Prosedur (SOP) pengerjaan proyek infrastruktur di wilayah tersebut. Publik kini menanti, apakah pemerintah daerah dan kontraktor punya nyali dan tanggung jawab untuk segera membenahi “jebakan maut” ini, atau terus bersembunyi di balik alasan teknis hingga nyawa benar-benar melayang.






