Manado, KOMENTAR.ID
Iman Kristen tidak lahir dari meja aparat penegak hukum. Sejarah mencatat bahwa iman kekristenan justru bertumbuh di tengah konflik dan kekrasan masa lalu.
Demikian penuturan Ketua Panji Yosua Jakarta, Noldy Pratasis menanggapi rentetan laporan polisi belasan organisasi yang menyeret mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
“Kita yang sehaarusnya tidak perlu terlalu sensitif menggunakan tangan aparat untuk menjaga iman kita sebagai pengikut Kristus. Sejatinya iman Kristen harus diuji dengan beragam tantangan eksternal,” ujar Noldy Pratasisi, Sabtu (18/4/2026) via kontak whatsap.
Pratasis menegaskan dirinya tidak setuju Jusuf Kalla dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penistaan agama.
Menurut dia, laporan ke polisi terhadap Jusuf Kalla atas pernyataannya yang dinilai menistakan agama bukan wilayah kejahatan hukum. Sebaliknya kata Pratasisi, laporan itu menggambarkan sikap yang tidak kitis dan bijak.
“Itu malah bukan sikap orang Kristen. Dan memang kantor polisi bukan intitusi penegak keimanan. Kecuali tindakan Jusuf Kalla memiliki impact kerusakan social. Ini kan Cuma sensitifitas orang per orang yang bukan representasi lembaga agama,” jelas Pratasis.
Lanjut Pratasisi, dalih keresahan yang diajukan pelapor bukan parameter kejahatan hukum karena argumnen itu cuma pendapat pribadi pelapor agar laporan diterima.
“Kita tidak punya alat ukur keresahan. Itu perasaan subyektif pelapor,” tutu Pratasis.
Lanjut dia, jika merujukan pada ajaran dasar kekristenan, pernyataan Yusuf Kalla justru menjadi ujian tentang kedalaman iman umat Kristiani tentang kasih.
‘Apakah itu kejahatan. Saya piker bukan. Itu justru mengundang umat Kristen untuk bersikap positif dan bijaksana. Nilai dasar iman kita,” ujar Pratasis.






