Tahuna, KOMENTAR.ID
Rony Tamusa, mantan Asisten Pribadi (Aspri) Bupati Kepulauan Sangihe, Alm. Hironimus Rompas Makagansa (HRM) periode 2011-2016, kini sudah beralih menjadi petani.
Jika lebih jauh menelusuri latar belakang pria yang akrab disapa Ebol, Rony adalah mantan preman kota Tahuna yang sangat disegani karena keberanian dan kelihaiannya menggunakan belati atau pisau.
Namun semua itu sudah berlalu, pria yang juga akrab dengan insan pers perbatasan Indonesia-Filipina, sedang fokus menggeluti dunia pertanian dan hortikultura serta mengurus peternakannya yang berlokasi di pinggiran Kota Tahuna, Kelurahan Santiago.
Ditemui sejumlah wartawan, Rony sedang sibuk mengurus peternakannya, termasuk sibuk melayani pesanan pembeli daging babi maupun pembeli ternak ayam.
Hasil pantauan dan wawancara singkat dengan pria yang juga mantan aktivis kritis dan sering jadi nara sumber berita diberbagai koran di Sangihe dan Sulawesi Utara, Rony tidak sekedar petani biasa, tapi sudah mulai menanatap Manajemen Bisnis Pertanian, dengan beralih fungsi dari petani biasa menjadi wirausahawan yang menghitung untung-rugi, efisiensi biaya, dan analisis pasar.
“Untuk saat ini, baik daging babi maupun ternak ayam dan hasil panen cabe, tomat serta sayuran saya jual secara online, jarang langsung di pasar,” ungkap suami tercinta dari Ela Taunaumang.
Dengan penghasilan bersih rata-rata Rp 5 jutaan per bulan (Hasil ternak babi, hortikura, sayuran dan ternak ayam), Rony mengaku cukup nyaman untuk hidup sehari-hari, apalagi kedua anaknya, Natalia Anastasya Tamusa sudah bekerja sebagai Teknisi Elektro Medis di RS Liunkendage Tahuna dan sang putra Tegar Tamusa, juga sudah bekerja di kapal, namun Rony tetap berusaha untuk sukses menuju petani wirausahawan.
“Saya harus terus geluti usaha ini, apalagi saat ini saya punya beberapa anak binaan yang membantu di peternakan dan perkebunan, kedepan anak-anak binaan ini juga harus sukses, minimal mereka sudah mahir ketika hendak bertani atau membuka peternakan sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, meski cukup lama beralih status jadi petani setelah pensiun dari Aspri Bupati, sekitar 10 tahun silam, Rony ternyata tetap eksis mengikuti perkembangan daerah, insting kritis ketika ia kerab jadi nara sumber berita disejumlah koran masih cukup tajam.
Tak heran ia mangatakan perlu berdiskusi dengan beberapa wartawan senior yang mengunjunginya, seperti Meydi Pandean (Pemred Media Klik Timur) dan Asril Tatande (Pemred Media Bintang Bhayangkara}, untuk sharing seputar kondisi Sangihe terkini, khususnya keberadaan jajaran kabinet Pemerintahan TUARI.
“Mohon maaf, meski hanya kasat mata, saya prihatin dengan kondidi APBD Sangihe saat ini yang turun drastis. Saya ingat di era Bupati pak HRM, APBD Sangihe paling tinggi dan tidak pernah turun dari Rp. 1 Triliun,”ujarnya.
“Saya ingat sekali jurus yang diajarkan pak Bupati ketika berada di Jakarta untuk lobi kementerian dan DPR RI, karena untuk ditingkat bawah mulai satpam hingga staf biasa itu tugas saya, dan semua berjalan mulus, tim Pemkab Sangihe selalu jadi peioritas ketika datang ke Pusat,*sambungnya.
Pastinya ada banyak trik yang diceritakan Rony selama dia jadi Aspri, seperti kehadiran Presiden Jokowi yang sesuai protokoler hanya dalam hitungan menit, berubah jadi empat jam, ternasuk kedatangan Menteri Kelautan Ibu Susi yang datang ke Sangihe hingga dua kali.
“Saya ingat dulu pernah ada wartawan yang menulis, sangat sulit menemui pak Bupati di Tahuna. Memang harusnya begitu, karena kalau pak Bupati hanya diam di Tahuna mau dapat apa daerah. Buktinya, selain Presiden, ada 9 menteri saat itu datang ke Sangihe” kata Rony.
“Tapi yang pasti, jika ingin lobi mulus, harus ada pengorbanan di pusat, kalau datang tangan kosong jangan harap,” tutupnya singkat. {PeyKid}






