Gubernur Urus Masa Depan di Asrama, Megamas Dijejali Ilusi Politik

Manado, KOMENTAR.ID
Oleh: Roy Salibana
Malam ini, 8 November 2025, ada dua pemandangan kontras yang mendefinisikan pilihan masa depan Sulawesi Utara. Dua realitas yang berjalan di rel antitesis.


Di satu sisi, Kawasan Megamas Manado gegap gempita. Sebuah perhelatan akbar bertajuk “Pesta Rakyat” digelar, menghadirkan musisi papan atas sekelas Judika. Gratis. Panggungnya megah, lampunya gemerlap, dan ribuan rakyat tumpah ruah. Di atas kertas, ini adalah hiburan murni untuk warga.

Read More


Namun, di balik poster yang bertabur wajah elite politik Jakarta yang warnanya kebetulan sangat “biru” kita tak bisa naif. Ini adalah panggung hiburan yang ujungnya adalah kamuflase panggung partai. Rakyat dicekoki hingar-bingar sesaat, sebuah candu temporer agar lupa pada esensi yang lebih mendesak.


Di sisi lain, di saat yang nyaris bersamaan, ribuan kilometer jauhnya di Bandung, terjadi sebuah peristiwa senyap namun sarat substansi. Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, tidak sedang berada di panggung VIP Pesta Rakyat itu. Ia justru memilih blusukan ke Asrama Mahasiswa Sulut di Bandung.


Alih-alih menikmati privilege di kursi kehormatan, Sang Gubernur memilih duduk bersama para mahasiswa, mendengarkan aspirasi, dan memberi pesan sederhana: “Belajarlah dengan tekun.”


Di sinilah letak paradoks itu.
Indonesia hari ini, di tahun 2025, sedang berlari melawan waktu. Kita dihadapkan pada dua fakta brutal: bonus demografi kita akan segera menjadi bencana demografi jika tidak dikelola, dan pertumbuhan ekonomi kita yang “stabil” di angka 5% sesungguhnya tidak cukup untuk menyerap angkatan kerja baru. Jutaan sarjana kita menganggur. Kita krisis SDM berkualitas, bukan krisis hiburan.


Dalam konteks kekinian ini, apa yang dipertontonkan di Megamas malam ini adalah sebuah kemewahan yang menipu. Itu adalah politik “roti dan sirkus” (bread and circuses) ala Romawi Kuno: beri rakyat hiburan gratis, beri mereka tontonan, agar mereka diam dan tidak menuntut hal-hal substantif seperti lapangan kerja, pendidikan berkualitas, atau tata kelola yang bersih.


Elite politik yang terbang jauh-jauh dari Jakarta, didukung sponsor BUMN, sejatinya tidak sedang memberi “pesta” untuk rakyat. Mereka sedang “memakai” rakyat sebagai dekorasi untuk panggung politik mereka sendiri.


Sementara itu, kunjungan senyap Gubernur ke asrama mahasiswa di Bandung adalah sebuah investasi. Itu adalah pengakuan bahwa masa depan Sulut tidak dibangun oleh gemerlap lampu panggung semalam, tetapi oleh kualitas otak dan keterampilan anak-anak mudanya yang sedang berjuang di perantauan.


Tindakan Gubernur adalah politik substansi. Ia fokus pada “kualitas masyarakat”. Ia paham bahwa masalah utama kita adalah SDM. Tindakan di Megamas adalah politik kamuflase. Ia fokus pada “kuantitas massa” mengumpulkan sebanyak mungkin orang untuk diberi stempel elektoral.


Rakyat Sulut harus memilih: apakah kita mau terus dicekoki hiburan yang membius, atau kita menuntut investasi serius pada manusia?


Pesta di Megamas akan selesai dalam hitungan jam. Eforianya akan hilang esok pagi. Tapi investasi pada mahasiswa di Bandung itu akan kembali sebagai insinyur, dokter, dan pemimpin yang membangun daerah. Sayangnya, politik substansi memang jarang sekali seksi dan tidak fotogenik untuk dipajang besar-besar di poster.

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts