Ratatotok, KOMENTAR.ID
Perjuangan hidup Lole Pantow benar – benar nelangsa. Berharap semua yang dikerjakan untuk menghidupi keluarga, membiayai pendidikan anak dan cucu-cucu, Lole terpaksa berurusan dengan hukum. Ada pihak yang bermain tidak fair dengan Mabes Polri, menangkap Lole Pantow dengan dalih pertambangan tanpa izin (PETI). Dan Lole pun ditahan lalu dititipkan di Rutan Polda Sulut saat ini.
Lalu apa yang terjadi setelah Lole Pantow ditahan polisi?
Dalam sekejap sindikat mafia yang diduga bermain mata dengan Mabes Polri masuk ke lahan Lole Pantow lalu menutup dua bak, kemudian mengeruk material untuk diolah menjadi emas. Sampai di titik ini, anak cucu Lole Pantow tidak habis pikir. Polisi yang tadinya berupaya menegakan hukum, kini berubah seperti singa lapar yang membiarkan kelompok ilegal memanen cuan di tanah Lole Pantow dan menari – nari di atas penderitaan Lole Pantow.
Peristiwa tertangkap kamera beberapa oknum yang kedapatan membongkar material menggunakan alat berat beberapa waktu lalu mengirim pesan bahwa ternyata penindakan kepolisian adalah pintu masuk kejahatan baru yang menyasar masyarakat lemah tanpa ampun. Praktek yang sangat dibenci Prabowo Subianto.
Keluarga Lole Pantow mendapati sindikat mafia tambang tanpa malu-malu nyerobot masuk mengeruk permukaan tanah.
Terhadap aktivitas ini anak putri Lole Pantow bermohon kepada Gubernur Sulut Yulius Selvanus Komaling dan Prabowo Subianto untuk memberikan rasa nyaman dan adil bagi mereka. Bukan cuma Prabowo, tapi Gerindra sebagai Partai Politik yang mendeklarasikan diri sebagai partai pembela rakyat kecil.
“Kalau hukum ditegakkan, harusnya status quo. Ayah kami dipenjara, tapi ada kelompok yang langsung masuk menyerobot dan mengeruk material. Apakah hukum ditegakkan untuk memberikan ruang baru, bagi kejahatan baru,” sindir kerabat Lole Pantow.
Menindaklanjuti jeritan hati anak-anak Lole Pantow, Tonaas Wangko Isak Tambahani turun ke lokasi Nonahoa. Sebagai Wakil Ketua DPD Gerindra Sulut, Isak merasa penting untuk menggali informasi terlebih dahulu di lapangan, mendengar langsung suara anak-anak Lole Pantow. Tokoh masyarakat Sulut yang konsen dengan budaya dan peradaban Sulut ini meminta agar semua pihak mengendalikan diri dan tidak sewenang-wenang terhadap rakyat kecil.
“Kalau maksudnya untuk penegakan hukum, mari kita hormati. Jangan saling berdebat kusir. Kita punya hukum. Hormati itu dan jaga kedamaian,” pesan Isak Tambahani di lokasi Nonahoa.
Polemik Lahan perkebunan di Pasoloh Nonahoa, Ratatotok, Kecamatan Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara, milik dari Lole Pantow saat ini berproses hukum dii Polda Sulut.
Dalam video yang viral dimedia sosial sempat meminta tolong kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, hal ini Menjadi perhatian kusus oleh Tonaas Wangko Ishak Tambani juga selaku Wakil Ketua Gerindra Sulawesi Utara pada Senin (23/06/2025).
“Tolong kami rakyat kecil yang cari makan di lahan kami sendiri pak YSK dan pak Victor, kata Astri cucu dari Musa Pantouw Pemilik Sah Lahan terebut.
Pihak keluarga melalui Astri Saruan dalam videonya, memohon kepada Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Vicktor Mailangkay.
Diketahui oknum yang dengan menggunakan Eksavator diduga merusak lahan milik mereka. Menurut pengakuan Ahli Waris Astri Saruan, bahwa tanah itu masih milik dari keluarga mereka dan tidak pernah di bebaskan oleh Perusahan Newmont atau dipindah tangankan kepada pihak lain.
Namun aneh bin ajaib diduga ada pengusaha dari luar negeri mengklaim memegang IUP atas nama Minselano, yang notabene ijinnya sudah mati pada tahun 2021.
Menurut ahli waris keluarga Pantow ini, bahwa beberapa bulan lalu Pengusaha atas nama BR alias Berry mengajak keluarga untuk bekerjasama mengolah lahan tersebut. Namun di tolak oleh keluarga dengan alasan bahwa mereka tidak mau pakai investor.
Biarlah keluarga dan masyarakat sekitar mengolah secara manual untuk mencari nafkah di lahan tersebut.
Saat ini Ventje Pantow dalam penyelidikan berproses Polda Sulut karena melakukan PETI (Pertambangan Emas Tanpa Isin).
Tonaas Wangko Ishak Tambani menyampaikan dan menghimbau kepada masyarakat dan teman teman penambang agar tidak lagi saling menyalahkan.
“Jangan baku- baku salah. Torang samua Basudara,”tutup Ishak. (kim)






