Mafia China Tebar Polisi-polisi Bayaran di Lokasi Tambang Ilegal, Diduga Di-back Up Jaringan Mabes Polri

Edo, korban penembakan Brimob Polda Sulut meregang nyawa. Tampak keluarga korban mendatangi ke rumah sakit. (Istimewa)

Manado, KOMENTAR.ID

Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dicoreng institusi Polri yang dipimpin Jenderal Listyo Prabowo. Penembakan warga Basaan, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara yang menyebabkan korban Fernando Tongkotow meregang nyawa membuka aib Polri di mata masyarakat. Polisi – polisi bayaran WNA China bernama Yuho itu seperti sedang menentang misi Prabowo memberantas pelaku tambang ilegal (PETI) yang selama ini mengeruk sumber daya alam Indonesia untuk dibawa keluar negeri.

Bukannya menyokong Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, Polri malah terperangkap bisnis gelap mafia tambang ilegal yang didanai orang asing. Ironisnya, praktek gelap ini diduga di-back up oknum-oknum perwira atau jenderal berbintang di Mabes Polri.

Sinyalemen keterlibatan jaringan Mabes Polri ini tampak terang benderang karena dalam beberapa kasus sebelumnya, penyitaan alat berat di wilayah tambang Ratatotok, Minahasa Tenggara atas perintah Mabes Polri. Begitupun tindakan Police Line dan penyitaan barang bukti tambang ilegal pada momentum sebelumnya dilakukan Mabes Polri.

Anehnya, investor mata sipit dari China bernama Yuho tidak pernah disentuh Mabes Polri. Upeti dan koordinasi menjadi topik pergunjingan beberapa pelaku tambang ilegal Ratatotok yang merasa Yuho benar-benar anak emas Mabes Polri.

“Dia tidak berurusan langsung dengan Polda Sulut. Yuho langsung ke Mabes Polri. Makanya tambang emas Yuho yang di Alason, Ratatotok Minahasa Tenggara lolos terus. Ini tidak adil. Ketika WNI mengolah tambang dengan modal seadanya, langsung di-police line. Alat berat disita. Giliran China, bukan hanya diberi karpet merah tapi diberi backup aparat kepolisian,” ungkit salah satu penambang Ratatotok, Senin (10/3/2015) malam di Manado.

Pria itu mengatakan, fenomena polisi – polisi bayaran itu bukan hanya di lokasi tambang ilegal Yuho yang menurut informan kurang lebih 10 personil, tapi banyak yang lain bertebaran di sejumlah lokasi tambang.

“Tidak mungkin polisi makan tidur di hutan tanpa dibayar. Sangat mungkin mereka dibayar mafia tambang untuk menjaga lokasi PETI. Punya yang mengantongi izin resmi pemerintah,” terang pelaku tambang itu.

Kembali ke insiden penembakan, korban Edo warga di Desa Basaan, Kecamatan Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, meregang nyawa setelah terkena tembakan di bagian kepala sebelah telinga, di lokasi pertambangan emas ilegal Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Senin (10/3/2025) dini hari.

Terduga pelaku yang melakukan penembakan disebut-sebut adalah oknum personil Brimob Polda Sulawesi Utara.

Sumber resmi yang dilansir dari Tribunmanado menyebutkan peristiwa penembakan terjadi pada Senin (10/3/2025) sekira pukul 01.30 WITA, saat korban bersama puluhan rombongan bergerak ke lokasi tambang emas ilegal yang ditengarai milik laki-laki Nano yang dikelola bersama WNA asal China yang bernama You Ho.

Dilokasi tersebut, mereka diduga hendak mengambil karbon dari lokasi tambang emas ilegal tersebut.

Namun saat mendekati lokasi kejadian tiba-tiba mereka dihadang sekira 10 anggota Brimob yang melakukan penjagaan dari jarak sekisar 50 meter. 

Saat dihadang, personil Brimob dari Polda Sulut yang berjaga diduga langsung menembak kepada korban dan rombongan secara membabi buta.

Korban Edo rubuh terkena tembakan di bagian kepala dekat telinga.

Kemudian teman-teman korban berusaha menyelamatkan korban dengan membawa ke rumah sakit terdekat, namun nyawanya tidak tertolong akibat pendarahan hebat di bagian kepala.

Dilansir dari Tribunmanado, Polda Sulawesi Utara pun buka suara terkait tewasnya seorang warga Basaan, Kabupaten Minahasa Tenggara di Lokasi Pertambangan, pada Senin (10/3/2025) dini hari.

Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Michael Thamsil mengatakan bahwa pihak Propam Polda Sulut telah turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan lanjut terkait informasi keterlibatan anggota pada kasus ini. 

“Pak Kapolda Sulut sudah memerintahkan Kabid Propam untuk melakukan penyelidikan dan upaya-upaya lainnya,” jelasnya.

Thamsil memastikan jika benar ada keterlibatan anggota pada peristiwa tewasnya warga ini, dipastikan akan di proses hukum. 

“Jadi jika hasil penyelidikan ada keterlibatan personil Polri, akan ditindak sesuai ketentuan yang ada,” jelasnya.

Sangat disayangkan keberadaan personil Brimob Polda Sulut dilokasi tambang emas ilegal yang bahkan dikelola oleh WNA asal China ini.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada penjelasan resmi dari Polda Sulut terkait keberadaan personil Brimob Polda Sulut dilokasi tambang emas ilegal tersebut.

Sementara itu, Wakapolda Sulut, Brigjen Pol Bahagia Dachi mengatakan bahwa Propam Polda Sulut telah dikerahkan untuk menyelidiki kasus tersebut.

“Saat ini, kami dalam proses penyelidikan, karena semua sudah diambil alih oleh Polda Sulut untuk proses secara hukum,” kata Bahagia.

Dachi mengimbau masyarakat untuk menyerahkan dan mempercayakan proses hukum tersebut kepada pihak kepolisian dan tidak bertindak anarkis setelah kejadian tersebut. Dachi mengklaim polisi udah bertemu dengan pihak keluarga korban dan meminta maaf.

“Kami sudah bertemu dengan keluarga korban di ruang jenazah dan atas nama Kapolda Sulut kami meminta maaf,” ungkapnya.

Bahagia memastikan akan menindak tegas anggota Polda Sulut yang terbukti melakukan kesalahan hingga warga meninggal dunia.

“Kita akan hukum berat bila perlu,” katanya.

Di hari yang sama, Wakapolda Sulut juga menegaskan pihaknya menarik semua personil dari lokasi tambang emas ilegal seantero Ratatotok. (kim)

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts