Sitaro, KOMENTAR.ID
Tidak bisa dipungkiri lagi jika lebih dari separuh masyarakat Kabupaten Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro) kini sedang larut dalam euforia hadirnya pemimpin baru.
Diketahui, kurang lebih 15 tahun kabupaten yang dikenal dengan istilah negeri 47 pulau ini dikuasai oleh rezim Toni Supit di bawah panji PDIP, sehingga tidak heran jika momentum euforia peralihan kekuasaan kali ini nampak berbeda bila dibandingkan dengan perayaan kemenangan 3 periode berturut-turut.
Yang paling mencolok ialah “pesta rakyat” bernuansa syukuran kemenangan nampak seakan tak henti-henti dilaksanakan di setiap kampung sejak Paslon usungan Golkar, Gerindra dan Nasdem, yakni Chintya I Kalangit-Heronimus Makainas (CHIKA-BERANI) meraih suara terbanyak pada 27 November 2024 lalu.
Namun demikian, di balik rentetan perayaan, ternyata ada harga mahal yang harus dibayar tapi seakan tidak diketahui masyarakat.
Dimulai dari hal yang lumrah terjadi pasca Pilkada yakni upaya mencari “suaka” oknum-oknum yang sebelumnya mati-matian berusaha menumbangkan Paslon CHIKA-BERANI. Praktek ini akrab dengan istilah ‘Lepute’.
Diketahui, dalam pemahaman umum masyarakat Sitaro, ‘Lepute’ identik dengan perilaku seseorang (non pendukung) yang haus kedudukan, kemudian menggunakan berbagai cara agar mendapat pengakuan sebagai pendukung Paslon pemenang Pilkada.
Hal ini biasanya dilakukan guna mendapat jabatan, kekuasaan atau bahkan proyek di pemerintahan yang baru.
Meski begitu, selain ‘Lepute’, ternyata ada juga fenomena lain yang tidak begitu nampak, namun sedang terjadi yakni sengketa hukum yang menyeret sejumlah tokoh kunci kemenangan CHIKA-BERANI di antaranya Piet Hein Kuera alias Kaka Pit dan Alfrets Ronald Takarendehang atau yang akrab disapa ART.
Diketahui, dua sosok yang disebut-sebut sebagai ujung tombak Paslon nomor urut 1 ini diseret ke ranah hukum oleh lawan politik yang kalah pada pertarungan 27 November 2024 lalu.
Diduga kuat hal ini terjadi lantaran belum bisa menerima kenyataan tumbang dengan selisih suara lebih dari 5.000.
Salah satu pendukung Paslon YES-TO melaporkan Kaka Pit dan ART ke aparat penegak hukum sesaat setelah kabar kekalahan menggema sampai ke pelosok daerah penghasil emas hitam alias pala kualitas nomor 1 di dunia itu.
Dengan bergulirnya proses hukum tersebut, sejumlah kalangan menyimpulkan, secara tidak langsung terindikasi bahwa kemenangan CHIKA-BERANI atas YESTO tidaklah murah. Melainkan mahal, karena harus “dibarter” dengan 2 tokoh sentral.
Bahkan kabarnya akan ada nama lain yang juga bakal dilapor.
ART yang juga adalah Ketua Tim Pemenangan CHIKA-BERANI, saat dikonfirmasi perihal kabar ini, tidak menampik.
“Iya. Saya kira inilah harga yang harus dibayar ketika kita ingin perubahan,” ujar ART yang dikonfirmasi di sela-sela pelantikan CHIKA-BERANI di Jakarta, Kamis (20/2/2025).
Terkait dengan proses hukum yang sedang dijalani, Wakil Ketua DPRD Sitaro menyebutkan bahwa ini merupakan sebuah risiko yang harus diambil demi masyarakat Sitaro. Serta perubahan.
“Kalau kita tidak mau ambil risiko ini, maka hampir dipastikan nasib daerah ini akan sama dengan lima belas tahun lalu. Kita seperti jadi tamu di rumah sendiri,” tuturnya.
Perihal kasus hukum yang sedang bergulir, ia mengaku tidak terlalu mempersoalkan hal itu.
“Semua risiko yang akan terjadi di depan, sudah kami pikirkan ketika telah memutus untuk melawan rezim. Dan ketika hari ini mereka melaporkan kami ke aparat penegak hukum, tentu harus dihargai,” urainya.
“Dan sebagai warga negara yang taat hukum, semua proses hukum diperhadapkan, kami hargai dan ikuti meskipun dengan risiko-risiko yang besar,” sambungnya.
Di satu sisi, Ketua DPD II Golkar Sitaro ini berharap kemenangan yang harus dibayar mahal ini, tidak dirusak oleh oknum-oknum yang haus jabatan dan kekuasaan.
“Saya berharap perjuangan ini tidak tercoreng oleh oknum-oknum yang hanya mementingkan diri sendiri,” harapnya.
Sebaliknya, peraih suara terbanyak kedua pada Pilkada 2018 ini mengajak semua pihak untuk sama-sama mengawal perubahan dengan bersama pemimpin yang baru.
“Anau Wanua (Sebutan akrab CHIKA-BERANI di momen kampanye lalu) harus sama-sama torang kawal demi Kabupaten Sitaro yang lebih maju lagi,” kunci Wakil Rakyat dari Dapil II (Siau Timur-Siau Timur Selatan) ini.
Sekadar diketahui, dari 10 kecamatan di Kabupaten Sitaro, CHIKA-BERANI berhasil sapurata 9 kecamatan. Paslon YESTO hanya unggul dengan selisih sangat kecil di Kecamatan Tagulandang Selatan.
[ein/kid]






